Being Excellent with Islamic Values

Contact Info

Jl. Sunan Ampel No.7, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64127
info@iainkediri.ac.id
0354 - 689282

Follow Us

[BAGIAN 1/3] TOGA TERAKHIR, DOA YANG TAK PERNAH BERAKHIR

Wisuda UIN Syekh Wasil Kediri

Dosen Lansia Nur Ahid 

 

"Wisuda bukanlah saat seseorang berhenti belajar, melainkan ketika ilmu berhenti menjadi milik pribadi dan mulai berjalan sebagai pengabdian. Toga boleh dilepaskan, tetapi amanah tidak pernah boleh ditanggalkan”

 

Ketika Pagi Membuka Kembali Pintu Kenangan

Ada pagi yang datang membawa kesibukan. Ada pagi yang datang membawa harapan. Namun, ada pula pagi yang datang membuka seluruh pintu kenangan, sehingga hati tiba-tiba dipenuhi wajah, suara, langkah, dan peristiwa yang selama bertahun-tahun tersimpan dalam ruang ingatan.

Sejak matahari perlahan menyentuh halaman kampus, suasana telah berubah menjadi perayaan kehidupan. Para wisudawan datang mengenakan toga. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan setelah melewati perjalanan akademik yang panjang. Di samping mereka berjalan ayah dan ibu dengan pakaian terbaik, membawa senyum yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kebanggaan yang tidak terhingga.

Bunga-bunga disiapkan. Kamera diarahkan. Nama-nama dipanggil. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Semua orang berusaha mengabadikan momen karena mengetahui bahwa waktu tidak akan mengulang hari yang sama.

Di tengah kemeriahan itu, saya justru merasakan keheningan yang sangat dalam.

Saya memandang satu demi satu wajah para wisudawan. Wajah-wajah itu membawa saya kembali pada ruang kuliah, meja bimbingan, lorong kampus, seminar proposal, ujian, perdebatan akademik, dan lembar-lembar karya ilmiah yang pernah dipenuhi coretan. Saya teringat mahasiswa yang dahulu datang dengan penuh keraguan, tetapi hari itu duduk dengan kepala tegak. Saya teringat mereka yang pernah hampir menyerah, tetapi akhirnya berhasil mengenakan toga.

Hati saya bergetar ketika menyadari bahwa waktu telah berjalan demikian jauh. Tiga puluh tahun pengabdian seakan menyusut menjadi satu pagi. Ribuan pertemuan seperti berkumpul dalam satu ruangan. Suara para mahasiswa dari berbagai generasi terdengar kembali di dalam ingatan.

Lalu sebuah pertanyaan datang dengan sangat pelan: apakah ini toga terakhir?

Pertanyaan itu membuat jiwa menjadi syahdu. Bukan karena saya takut kehilangan sebuah jabatan atau ruang kerja, melainkan karena setiap akhir mengajak manusia menghitung kembali makna perjalanan. Toga terakhir bukan sekadar pakaian akademik yang dikenakan untuk terakhir kalinya. Ia adalah simbol bahwa ada masa yang telah ditunaikan, generasi yang telah diantarkan, dan amanah yang harus diserahkan kepada tangan-tangan berikutnya.

Namun, seorang pendidik tidak pernah benar-benar selesai mengabdi. Ketika ia tidak lagi mengajar melalui perkuliahan, ia masih dapat mengajar melalui tulisan. Ketika tidak lagi berdiri di depan kelas, ia dapat berbicara melalui keteladanan. Ketika suaranya tidak lagi terdengar di ruang akademik, doanya tetap berjalan menyertai murid-muridnya.

 

Tiga Puluh Tahun yang Tidak Dapat Diringkas oleh Angka

Tiga puluh tahun mudah ditulis, tetapi tidak mudah diceritakan. Di dalamnya terdapat ribuan hari, ribuan perjumpaan, ribuan percakapan, dan ribuan harapan yang datang silih berganti. 

Mahasiswa datang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh di lingkungan keluarga terdidik, ada yang menjadi orang pertama dalam keluarganya yang menginjakkan kaki di perguruan tinggi. Ada yang hidup dalam kecukupan, ada pula yang harus bekerja sambil kuliah. Ada yang berjalan dengan keyakinan, ada yang setiap hari berjuang melawan rasa tidak percaya diri.

Di ruang kuliah, mereka tampak sebagai satu kelompok. Namun, setiap mahasiswa sesungguhnya membawa dunianya sendiri. Ada harapan orang tua di pundaknya. Ada kegelisahan ekonomi di dalam pikirannya. Ada luka masa lalu yang disembunyikan. Ada impian besar yang belum berani diucapkan.

Karena itu, mengajar tidak pernah sekadar menyampaikan teori. Pendidikan merupakan perjumpaan antarmanusia. Seorang dosen bukan hanya berhadapan dengan pikiran yang harus diisi, tetapi dengan hati yang perlu disentuh dan jiwa yang harus dikuatkan.

Selama tiga puluh tahun, saya semakin memahami bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur hanya dari banyaknya materi yang selesai diajarkan. Pendidikan berhasil ketika mahasiswa menemukan keberanian untuk berpikir, kejujuran untuk mengakui kesalahan, kerendahan hati untuk terus belajar, dan kepedulian untuk menggunakan ilmunya bagi sesama. 

Ada mahasiswa yang mudah memahami penjelasan. Ada pula yang memerlukan waktu lebih panjang. Ada yang sejak awal terlihat cemerlang. Ada yang baru menemukan potensi dirinya setelah berkali-kali gagal. Mereka mengajarkan bahwa manusia tidak dapat dinilai hanya dari satu ujian, satu angka, atau satu peristiwa. 

Pendidikan adalah pekerjaan menanam. Seorang guru menanam benih pengetahuan dan nilai, tetapi tidak dapat memaksa semuanya tumbuh pada waktu yang sama. Ada benih yang segera berkembang. Ada yang membutuhkan musim panjang. Ada pula yang baru tumbuh ketika sang guru tidak lagi berada di dekatnya.

Saya masih mengingat mahasiswa yang datang membawa naskah dengan wajah tegang. Setelah membaca berbagai catatan perbaikan, ia menunduk dan bertanya, “Apakah saya masih mungkin menyelesaikannya?”

Pada saat seperti itu, tugas seorang pendidik bukan hanya mengoreksi kalimat atau metodologi. Ia harus menjaga agar harapan mahasiswa tidak ikut dicoret. Kritik akademik harus tetap tegas, tetapi tidak boleh mematikan keberanian. Sebab di balik satu halaman yang belum sempurna, mungkin ada seseorang yang sedang berjuang keras untuk tidak menyerah.

Barangkali banyak mahasiswa telah melupakan materi yang pernah saya sampaikan. Mereka mungkin tidak lagi mengingat definisi, teori, atau contoh yang dibahas di kelas. Namun, saya berharap mereka tidak melupakan bahwa ilmu harus dijalani dengan kejujuran, digunakan dengan tanggung jawab, dan dipersembahkan untuk kemanusiaan.

Seorang guru tidak harus dikenang namanya. Cukuplah nilai yang ditanamkannya tumbuh dalam kehidupan murid-muridnya. Cukuplah nasihatnya menjelma menjadi keberanian untuk menolak ketidakjujuran. Cukuplah ilmunya menjadi jalan yang memudahkan kehidupan orang lain.


Bersambung ke Bagian 2/3

 

Berita Lainnya