Oleh:
Ach. Shodiqil Hafil
(Kaprodi Tasawuf Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri)
Panggilan Prodi Tasawuf dan Psikoterapi: Menyembuhkan dari Akar
Di sinilah letak urgensi dan relevansi Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi. Mungkin bagi sebagian orang, nama prodi ini terdengar asing atau bahkan dianggap kurang "strategis". Padahal, jika kita cermati, prodi ini justru hadir sebagai respons strategis terhadap krisis multidimensi yang melanda generasi muda kita saat ini—mulai dari krisis moral hingga kehampaan eksistensial di era digital. Prodi ini secara sadar mengintegrasikan ajaran tasawuf (spiritualitas Islam) dengan pendekatan psikoterapi modern, menciptakan sebuah pendekatan penyembuhan yang holistik—tidak hanya mengobati gejala di permukaan, tetapi juga menyentuh akar spiritual dari perilaku menyimpang. Lulusan program studi ini di tingkat sarjana diharapkan mampu berperan sebagai asisten psikoterapis sufistik, praktisi sufi healing, hingga konselor spiritual yang mengintegrasikan pendekatan spiritual dan psikologis dalam layanan kesejahteraan mental masyarakat (Suara Metropolitan, 30 Oktober 2025).
Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri adalah salah satu kampus yang turut mengambil peran penting dalam pengembangan keilmuan ini. Pada 29–31 Oktober 2025, kampus ini menjadi tuan rumah Konferensi Nasional IX Konsorsium Tasawuf dan Psikoterapi Indonesia (KOTATERAPI) yang dihadiri oleh berbagai perwakilan dari perguruan tinggi Islam negeri di seluruh Indonesia (Suara Metropolitan, 30 Oktober 2025). Konferensi ini dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Dimyati Huda, Wakil Rektor III UIN Syekh Wasil Kediri, yang memberikan apresiasi atas peran KOTATERAPI dalam pengembangan keilmuan tasawuf di Indonesia (Suara Metropolitan, 30 Oktober 2025). Dalam forum tersebut, para akademisi UIN Syekh Wasil Kediri bersama kolega dari berbagai kampus lain menegaskan pentingnya pendekatan integratif antara spiritualitas dan ilmu kesehatan mental untuk menjawab kompleksitas masalah mental-spiritual di era modern.
Menata Ulang Masa Depan Pendidikan Tinggi
Pada akhirnya, apa yang terjadi di FH UI dan ITB adalah tamparan halus bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa prestasi akademik tanpa integritas adalah bencana. Kampus tidak boleh hanya menjadi pabrik pencetak gelar dan pemburu IPK semata. Ia harus menjadi rumah yang aman, laboratorium etika, dan taman persemaian bagi lahirnya manusia-manusia yang tidak hanya tajam pikirannya, tetapi juga bening mata hatinya.
Untuk mewujudkan itu, bangsa ini memerlukan lebih banyak sarjana yang tidak sekadar fasih menukil teori-teori Sigmund Freud tentang struktur kepribadian, atau mahir mengurai pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin secara terpisah. Kita membutuhkan generasi baru yang mampu merajut keduanya menjadi satu hela napas yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan—sebuah sintesis langka antara ketajaman analisis psikologi modern dan kedalaman kontemplasi spiritual klasik. Inilah sesungguhnya esensi paling otentik dari perjumpaan intelektual antara Tasawuf dan Psikoterapi: sebuah ikhtiar akademik untuk tidak hanya mendiagnosis patologi jiwa, tetapi juga menuntunnya kembali ke fitrah kesuciannya.
Maka, kepada para orang tua yang tengah gelisah membaca berita tentang krisis moral di kampus-kampus elite; kepada keluarga, sahabat, dan tetangga yang merindukan lahirnya generasi yang tidak hanya cemerlang secara intelektual tetapi juga kokoh secara karakter; kepada siapa pun yang masih percaya bahwa pendidikan harus mampu menyentuh wilayah hati yang paling dalam—inilah saat yang tepat untuk menaruh perhatian pada Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri. Prodi ini menawarkan lebih dari sekadar gelar akademik. Ia menjanjikan sebuah perjalanan transformatif: menempa para mahasiswanya menjadi pribadi yang memiliki muraqabah—kesadaran intim akan kehadiran Ilahi yang menjadi benteng moral paling tangguh dari segala bentuk penyimpangan dan degradasi etika. Di tengah lanskap pendidikan tinggi yang kian gaduh oleh ironi dan paradoks, prodi ini hadir laksana oase intelektual yang menawarkan jalan pulang menuju martabat kemanusiaan yang sejati.
Sebab, pada akhirnya, Indonesia tidak pernah kekurangan orang-orang pintar. Yang senantiasa ia rindukan adalah hadirnya lebih banyak orang baik—mereka yang berani merawat kebenaran meski dalam sunyi, dan menjaga integritas bahkan ketika tak ada sepasang mata pun yang menyaksikan. Dan di kampus UIN Syekh Wasil Kediri, tepat di jantung “laboratorium” Tasawuf dan Psikoterapi, para calon penjaga mata hati bangsa itu tengah ditempa dengan penuh kesabaran dan ketekunan ilmiah.
Fuda Jokoriyo, 16-04-26.





