Being Excellent with Islamic Values

Contact Info

Jl. Sunan Ampel No.7, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64127
[email protected]
0354 - 689282

Follow Us

(Bagian I) Merawat Jiwa yang Kehilangan Langit: Refleksi Tasawuf Psikoterapi atas Luka Hati di Balik Tragedi Bunuh Diri

Oleh:

Ach. Shodiqil Hafil

(Kaprodi Tasawuf Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri)


Di depan SMPN 1 Mojo, Kabupaten Kediri, seorang pria berinisial AMB (29 tahun), berjalan gontai di bawah terik siang. Ia tidak berlari, tidak berteriak, tidak meninggalkan catatan kemarahan. Ia hanya berjalan, dengan langkah yang terlalu tenang untuk seseorang yang masih ingin hidup, lalu menerobos masuk ke kolong truk tangki Pertamina yang melintas. Selanjutnya, sudah bisa diduga apa yang terjadi.

Pagi yang sama, di Jembatan Kembar Cangar yang membelah kabut hutan Tahura Raden Soerjo antara Batu dan Pacet, seorang petugas jagawana melihat DPW (24) dari Lumajang duduk di atas motornya, menghisap rokok, menatap pepohonan. Petugas itu tidak curiga, ia kira anak muda itu sedang istirahat. Ketika kembali, DPW sudah tidak ada di atas jembatan. Ia ada di dasar jurang.

Keesokan harinya, Jumat 24 April, petang menjelang magrib, dua perempuan masuk ke gudang Masjid Bidayatul Mustahdin di Burengan, Kota Kediri, hendak mengambil peralatan dapur. Mereka menemukan pria berinisial Z (15) sudah tergantung di sana. Di sisinya ada secarik kertas. Surat cinta.

Dan sebelum semua ini, 23 hari sebelumnya, pria berinisial MMA (24) dari Mojokerto juga ditemukan tewas di bawah Jembatan Cangar yang sama. Rekaman video sesosok pemuda yang melamun di tepi jembatan itu kemudian viral, dipenuhi komentar haru, bunga, dan rokok yang diletakkan warganet sebagai bentuk empati. Jembatan itu pun mendapat nama baru: Mawar Hitam. 

Empat nama. Empat cerita. Satu pertanyaan yang sulit sekali dijawab: mengapa, di era yang paling terhubung dalam sejarah manusia, orang-orang masih bisa mati dalam kesendirian yang sepedih itu?


Werther Effect: Luka yang Berulang

Dua kematian di Jembatan Cangar dalam satu bulan bukan kebetulan. Pola keduanya hampir identik: datang sendiri, meninggalkan motor dan sandal di bibir jembatan, lalu hilang ke bawah. Psikologi sosial punya nama untuk fenomena ini: Werther Effect. Istilah itu diciptakan sosiolog David Phillips pada 1974 dalam American Sociological Review, diambil dari judul novel Johann Wolfgang von Goethe, Die Leiden des jungen Werthers—dalam bahasa Indonesia: Penderitaan Pemuda Werther. Novel itu terbit 1774 dan langsung memicu gelombang bunuh diri di kalangan pemuda Eropa: mereka mengenakan pakaian identik tokoh Werther dan membawa buku itu saat ditemukan tewas. Sesudah viral pada masanya, beberapa negara melarang novel itu masuk. 

Phillips membuktikan: pemberitaan luas tentang bunuh diri di media massa berkorelasi langsung dengan lonjakan angka kematian serupa di periode berikutnya. Artinya, cara kita merespon tragedi bisa menjadi tragedi berikutnya. Ketika warganet membanjiri kolom komentar dengan tangisan, meletakkan bunga dan kopi di jembatan, dan mengabadikan lokasi itu dengan nama yang terdengar puitis, tanpa disadari mereka sedang mengajari jiwa-jiwa yang rentan bahwa ada sesuatu yang “romantis” dari cara pergi seperti itu.

Data Pusiknas Bareskrim Polri per April 2026 mencatat rata-rata lebih dari 100 kasus bunuh diri terjadi setiap bulan di Indonesia. Bukan angka kecil. Dan tren ini belum membaik.

Tapi angka tidak cukup untuk menjelaskan mengapa AMB memilih kolong truk, atau mengapa Z yang baru 15 tahun menyimpan surat cinta di saku jaketnya sebelum masuk gudang masjid. Di balik statistik ada sesuatu yang lebih sunyi dan lebih dalam dari sekadar data epidemiologis.


Qalb yang Kehilangan Kompasnya

Kematian ibu AMB pada 2023 bukan sekadar kehilangan seorang manusia. Bagi dia, rupanya, ibu itu adalah satu-satunya alasan ia bangun pagi. Begitu perempuan itu pergi, yang runtuh bukan hanya hati, yang runtuh adalah arsitektur seluruh hidupnya. Saksinya sempat melihat ia mondar-mandir linglung di sekitar sekolah sejak pagi, beberapa kali mendekati kendaraan yang lewat. Ia sudah memutuskan. Ia hanya menunggu truk yang tepat.

Al-Ghazali, dalam Ihya' 'Ulum al-Din, menyebut kondisi ini sebagai ghaflah pada tingkat yang paling dalam: terputusnya jiwa dari Qalb—pusat kesadaran spiritual yang seharusnya menjadi kompas hidup. Qalb yang sehat tidak bergantung secara mutlak pada satu figur manusia untuk menemukan alasan bertahan. Ia memiliki Raja'—pengharapan—yang berakarnya bukan pada ibu, kekasih, atau jabatan, melainkan pada Yang tidak bisa mati mendahului kita. Ketika sumber harapan itu tidak pernah diajarkan, dan satu-satunya sumber yang ada tiba-tiba hilang, jiwa menjadi seperti kapal yang tali jangkarnya putus di tengah badai.

Ibnu Sina sudah mendiagnosis ini seribu tahun lalu. Dalam Kitab al-Shifa’, ia menulis bahwa jiwa manusia memiliki al-quwwa al-wahmiyya, semacam fakultas imajinasi yang bisa menjadi pengobat sekaligus pembunuh. Ketika imajinasi seseorang terus-menerus melukis masa depan yang gelap—tanpa celah, tanpa kemungkinan lain—tubuh pun bereaksi. Ia menyebut depresi berat sebagai al-waswas al-sawdawi: penyakit jiwa yang menyerang sekaligus secara psikis dan fisik. Bukan tidak beriman. Bukan aib. Tapi penyakit.

Viktor Frankl, psikiater Austria yang selamat dari kamp konsentrasi Auschwitz, menemukan hal yang sama dari sudut yang berbeda. Dalam Man's Search for Meaning (1959), ia menulis bahwa manusia bisa menanggung penderitaan yang paling berat sekalipun, asal masih punya jawaban atas satu pertanyaan: "untuk apa?" Bukan "mengapa menderita". Pertanyaan itu jarang berjawab. Tapi "untuk apa penderitaan ini dijalani". AMB kehilangan jawabannya saat ibunya wafat. Z (15) tampaknya merasakan hal yang serupa ketika cinta pertamanya tidak berjalan seperti yang ia bayangkan, dan teguran ibunya lewat WhatsApp terasa seperti satu lagi tembok yang menutup jalan keluar. Pada usia 15 tahun, kita sering lupa betapa sempitnya horison seorang remaja yang sedang patah hati pertama kali.


(Baca Bagian II)


Berita Lainnya