Oleh:
Ach. Shodiqil Hafil
(Kaprodi Tasawuf Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri)
Ketenangan yang Menular: Dari Tasawuf ke Psikoterapi
Dalam tradisi Tazkiyatun Nafs yang dikembangkan al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, penyembuhan jiwa bukan sekadar proyek privat seorang asketik. Ia berlangsung dalam relasi: ketika jiwa yang telah disucikan hadir bersama jiwa yang sedang terluka, ketenangan yang satu menular kepada kecemasan yang lain. Para ulama menyebutnya al-itmi'nan al-muta'addi (ketenangan yang menular).
Jutaan penonton yang menyaksikan dr. Gia bertutur tidak sekadar menyerap informasi medis, mereka mengalami sesuatu yang bersifat terapeutik. Warganet merespons dengan kata-kata: "menenangkan," "bikin damai," "seperti mendengar sosok bapak yang bijak." Respons itu bukan respons informatif. Itu respons terapeutik.
Ibnu Sina tujuh abad sebelum Freud telah menegaskan dalam al-Qanun fi al-Thibb: kondisi jiwa seorang tabib adalah variabel penyembuhan yang tidak kalah penting dari farmakologi. Dr. Gia membuktikan tesis Ibnu Sina secara empiris di era digital: ketenangan jiwanya menjadi konten, dan konten itu menjadi terapi massal.
Viktor Frankl, pendiri logoterapi, menyatakan bahwa manusia tidak selalu membutuhkan kesenangan atau kekuasaan, melainkan makna. Krisis psikologis generasi kontemporer bersifat noogenik: lahir dari kekosongan makna. Di sinilah dr. Gia bekerja tanpa ia mungkin menyadarinya sebagai kerja logoterapi: ia menawarkan makna di balik penderitaan, kemuliaan di balik profesi yang tampak biasa, spiritualitas di balik sterilitas medis.
Kalau Dokter Bisa Sufistik, Mengapa Kita Tidak?
Ada pertanyaan yang perlu diajukan secara jujur: mengapa fenomena dr. Gia menyentuh begitu banyak orang dari latar belakang berbeda—Muslim dan non-Muslim, dokter dan awam, Generasi Z hingga orang tua?
Jawabannya adalah karena nilai-nilai yang ia tampilkan—sabar, ridha, zuhud, muraqabah, ketenangan yang menular—adalah nilai-nilai universal yang selama ini diasosiasikan eksklusif dengan orang-orang pesantren, para sufi, atau kiai sepuh. Dr. Gia memperlihatkan bahwa nilai-nilai itu bisa hidup dalam diri seorang dokter yang jaga malam di IGD Jakarta, yang menangani pasien KDRT, yang berjuang delapan tahun menunggu anak.
Jika seorang dokter yang tidak pernah menyebut dirinya sufi bisa menampilkan karakter sufistik dalam kesehariannya, pertanyaannya menjadi: apa yang kita—para akademisi, mahasiswa, cendekiawan Muslim—lakukan dengan ilmu Tasawuf yang kita pelajari di kelas?
Prodi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri: Menjawab Zaman
Di sinilah Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi (TP) UIN Syekh Wasil Kediri menemukan panggilannya yang tidak bisa ditunda.
Ada prasangka keliru yang perlu dibantah: bahwa Tasawuf adalah ilmu masa lalu yang hanya relevan di sudut pesantren. Ini adalah kekeliruan epistemologis. Tasawuf bukan hanya heritage, ia adalah metodologi: sebuah sistem ilmu jiwa yang telah dipraktikkan, diuji, dan diverifikasi lebih dari seribu tahun, jauh sebelum Freud menulis satu baris pun tentang ketidaksadaran. Al-Ghazali telah memetakan anatomi nafs, mekanisme hawa, dan metode riyadhah dengan presisi yang mengagumkan, mendahului psikologi modern berabad-abad lamanya.
Prodi TP UIN Syekh Wasil Kediri memiliki mandat yang langka di Indonesia: mencetak praktisi yang berdiri di persimpangan antara khazanah sufistik Islam dan tuntutan klinis kontemporer. Bukan hanya teorisi maqamat, melainkan konselor yang dapat menjawab anxiety disorder mahasiswa, burnout tenaga kesehatan, krisis identitas remaja digital, dan depresi eksistensial yang angkanya terus merayap naik di kalangan anak muda Indonesia.
Fenomena dr. Gia adalah argumen empiris terkuat untuk keberadaan prodi ini. Seorang dokter umum lulusan FK YARSI—tanpa embel-embel gelar spiritual apa pun—membuktikan bahwa integrasi antara kompetensi profesional dan kematangan batin bukan utopia. Ia nyata, bisa dilatih, dan sangat dibutuhkan.
Lulusan Prodi TP adalah generasi yang paling dibutuhkan saat ini: intelektual organik yang sekaligus tabib jiwa, yang bisa berbicara kepada seorang remaja tentang kecemasan menggunakan bahasa al-Ghazali dan Viktor Frankl dalam satu napas; yang dapat hadir di komunitas dengan ketenangan yang menular, bukan dengan protokol klinis yang dingin.
Penutup: Satu Pertanyaan yang Tak Bisa Dijawab Algoritma
Viralnya dr. Gia bukan sekadar cerita inspiratif musiman. Ia adalah cermin dari dahaga spiritual kolektif yang tidak terjawab oleh konten hiburan, platform medis, atau algoritma rekomendasi mana pun.
Di balik setiap layar yang menyala dini hari, di balik setiap meme kecemasan yang dibagikan anak muda, tersimpan satu pertanyaan yang sama: untuk apa, sebetulnya, kita ada di sini? Pertanyaan itu tidak ada di Google Search. Tidak ada di For You Page. Tapi ada di dalam ilmu Tasawuf dan Psikoterapi Islam—jika ada yang mau belajar, merawat, dan mengoperasionalkannya.
Dr. Gia Pratama, tanpa pernah menamai dirinya seorang sufi, telah membuktikan bahwa jiwa yang dirawat bisa menjadi terapi bagi jutaan jiwa yang tidak dirawat. Di sinilah tugas Prodi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri: memastikan jawaban itu tidak hanya hidup dalam hafalan teoritis, tetapi bernyawa dalam diri para praktisi yang siap turun ke medan, sebagaimana dr. Gia turun ke IGD setiap malam.
Fuda Ngronggo, 20-04-26.





