Oleh:
Ach. Shodiqil Hafil
(Kaprodi Tasawuf Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri)
Pukul Dua Dini Hari, Kantong Kresek Hitam, dan Satu Nyawa
Pukul dua dini hari. Pintu IGD RSUD dr. Slamet, Garut, diketuk. Seorang lelaki gemetar mengulurkan kantong kresek hitam kepada dokter jaga. Isinya: rahim manusia. Tekanan darah pemilik rahim itu 70/0 mmHg. Syok hemoragik. Nyawa di ujung benang.
Dokter yang berdiri di sana adalah Gia Pratama Putra. Ia segera memasang infus, memanggil dokter kandungan dan bedah, mengoordinasikan operasi darurat, dan pasien selamat. Cerita itu—yang ia bagikan di podcast Raditya Dika bertajuk "Cerita dari Ruang IGD" pada 6 November 2025—kemudian menjadi salah satu konten paling banyak ditonton dan diperbincangkan di media sosial Indonesia hingga awal 2026.
Yang menarik bukan dramatisasi kasusnya. Yang menarik adalah cara dr. Gia bercerita: pelan, jernih, tanpa sensasi berlebihan. Netizen menyebutnya "dokter tentram." Jutaan orang menonton bukan karena ingin belajar anatomi rahim, melainkan karena mereka rindu pada sesuatu yang jauh lebih purba: ketenangan.
Profil Singkat: Dari Astronot ke IGD
Gia Pratama Putra lahir di Jakarta, 31 Agustus 1985. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas YARSI ini sempat bercita-cita menjadi astronot sebelum pengalaman koas di RSUD Garut dan RSUD Serang mengubah orientasinya sepenuhnya. Ia kemudian membangun karier di garis depan medis: Kepala Instalasi Gawat Darurat sekaligus Manajer Humas RS Prikasih dan RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan.
Di luar putaran jaga malam, ia menulis. Novel pertamanya, #BerhentiDiKamu (2018), lahir dari kisah cintanya sendiri dengan Syafira Imaniar—pertemuan yang berawal dari bisul seorang paman calon istri yang ia tangani—laku keras, dicetak ulang 63 jam setelah rilis, dan diangkat ke layar lebar pada 2020. Buku Garda Detak (2015) dan Perikardia (2019) melengkapi karya tulisnya yang menjembatani dunia klinis dan kemanusiaan.
Di media sosial, ia bukan sekadar influencer kesehatan. Ia membagikan pengetahuan medis dalam "bahasa manusia," menolak apa yang ia sebut "bahasa dewa", diksi teknis yang menciptakan jarak kekuasaan antara dokter dan pasien. Jauh sebelum viral, ia sudah melakukan itu.
Ujian Sewindu: Ketika Dokter Diajar oleh Takdir
Ada satu sisi dr. Gia yang luput dari sorotan, dan justru paling berbicara tentang kedalamannya sebagai manusia. Dalam podcast Beda Universe bersama Habib Jafar, dr. Gia mengungkapkan sesuatu yang ia tanggung bertahun-tahun dalam senyap:
"Aku kan masih berjuang punya anak, udah sewindu belum punya anak, Bib."
Delapan tahun menikah dengan Syafira, belum dikaruniai anak. Berbagai upaya telah ditempuh, termasuk program bayi tabung (IVF) yang belum berhasil. Program terbaru menggunakan teknologi Zymot—sistem seleksi sperma berbasis rintangan yang meningkatkan peluang pembuahan—setelah sang istri berhasil menghasilkan 26 sel telur, 16 di antaranya matang.
Selintas, ini adalah cerita medis. Tapi bagi siapa pun yang akrab dengan tradisi sufistik Islam, ini adalah lanskap ujian yang sangat dikenal: dokter yang setiap malam menyelamatkan nyawa orang lain, namun tidak mampu mengendalikan datangnya nyawa baru dalam rumahnya sendiri. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebut ini sebagai titik paling jujur dalam perjalanan suluk: ketika seorang hamba berdiri di depan batas kemampuannya sendiri, dan yang tersisa hanya doa.
Publik yang menyaksikan cerita itu spontan berdoa untuk dr. Gia. Bukan karena ia meminta simpati, ia bahkan tidak pernah berkeluh kesah. Justru karena ia bercerita dengan ketenangan yang membuat pendengarnya tersadar: bahwa ada orang yang menanggung beban besar dengan bermartabat.
Membaca dr. Gia dengan Kacamata Tasawuf
Jika perjalanan hidup dan praktik klinis dr. Gia diletakkan di atas peta spiritual Islam, akan tampak dengan jelas bahwa ia—boleh jadi tanpa pernah menamai dirinya seorang sufi—sedang menempuh apa yang disebut para ulama Tasawuf sebagai suluk: perjalanan jiwa menuju Tuhan melalui medan kehidupan yang nyata.
Zuhud bukan berarti menolak dunia, melainkan bebas dari perbudakan dunia. Dr. Gia mengedukasi publik jauh sebelum viral. Tidak ada kalkulasi pencitraan, tidak ada momentum yang diciptakan. Ketika cerita rahim copot akhirnya menjadi trending, ia sedang jaga IGD seperti biasa. Inilah zuhud dalam aksi: pengabdian total tanpa menunggu tepuk tangan.
Sabar dalam Tasawuf bukanlah pasivitas, ia adalah daya tahan jiwa yang memungkinkan seseorang tetap berpikir jernih di bawah tekanan paling ekstrem. Saat koas di Garut, dr. Gia pernah menangani 25 proses persalinan dalam 24 jam. Ia menyaksikan beberapa pasien meninggal hampir bersamaan. Para sufi menyebut daya tahan seperti ini sabr al-mujahid: kesabaran pejuang yang tidak berhenti meski medan pertempuran terasa mustahil.
Ridha (penerimaan aktif-transenden) terlihat ketika dr. Gia berhadapan dengan ventilator yang hanya bisa memperpanjang detik, bukan menyembuhkan. Ia membisikkan kalimat suci di telinga pasien yang sekarat, sementara suami pasien berbisik lirih: "Tunggu aku." Pasien berpulang dengan tenang. Seorang dokter yang ridha tidak terjebak ilusi omnipoten—ia melakukan yang terbaik dalam kapasitas manusia, lalu menyerahkan sisanya.
Muraqabah (senantiasa merasa diawasi Allah) tampak dari integritas dr. Gia yang tidak bergantung pada audiens. Dan ketika pada April 2026 ia dikritik karena menggunakan kata lama dalam cerita tentang pasien RSJ, ia tidak defensif. Ia meminta maaf secara terbuka: "Maafin belum menggunakan kata ODGJ. Saya sangat memahami semua pasien RSJ itu manusia." Akuntabilitas moral tanpa drama, itulah tanda muraqabah yang hidup.
Keempat maqam ini berjalan serentak di ruang IGD dr. Gia setiap kali ia bertugas. Bukan di masjid, bukan di pesantren, bukan di atas sajadah yang bersih. Di lantai IGD yang basah dan bau antiseptik.
(Baca Bagian II)





