UINSW Newsroom – Raut bahagia dan bangga nampak terpancar dari wajah Bagus Satriyo, wisudawan program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Syekh Wasil Kediri, saat ia turun dari panggung seusai berjabat tangan dengan Rektor dan menerima ijazahnya. Mungkin terlintas dalam benaknya deretan perjuangan panjang hingga akhirnya ia berhasil menuntaskan perjalanan kuliah pada jenjang S1-nya ini.
Bagus Satriyo adalah putra kedua dari lima bersaudara. Berasal dari Grogol, Kediri, ia lahir dari keluarga sederhana, dengan ayah yang bekerja sebagai buruh tani dan ibu yang membantu berdagang sejak dini hari untuk sekadar menambah pendapatan sehari-hari yang tidak menentu. Di bawah atap besi rumahnya yang sederhana dan kondisi kehidupan keluarga yang tak jarang memaksanya menahan lapar, ia senantiasa mencoba menjalaninya dengan sabar dan penuh rasa syukur.
Kondisi ekonominya acap kali mempertemukannya dengan cemoohan dari orang sekitar. Pernah ia tak mampu membeli seragam sekolah. Meski demikian, hal tersebut tak membuatnya patah semangat. Ia kemudian berjualan gorengan hanya agar ia bisa mendapat tambahan biaya untuk mencukupi kebutuhan sekolah dan membantu meringankan beban orang tuanya.
Setamat aliyah, ia bercita-cita untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Saat ditanya, Bagus menyebut bahwa motivasi terbesarnya adalah untuk mengubah kehidupan keluarganya agar lebih baik dan kondisi perekonomiannya dapat meningkat. Ia yakin, dengan pendidikan tinggilah ia bisa mewujudkannya.
Namun demikian, kehidupan perkuliahan tidaklah ia jalani dengan mudah. Pada masa awal perkuliahan, dengan uang saku yang terbatas, ia kerap kali harus menahan lapar saat tinggal jauh dari orang tua. Ia kemudian memilih kembali ke rumah dan menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 10km untuk berkuliah dengan menaiki sepeda hingga beberapa waktu. Tetapi Bagus bersyukur, dirinya kemudian menjadi salah satu mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Ia mengaku banyak terbantu dengan beasiswa yang diterimanya.
Selama berkuliah, ia juga sering mencoba untuk berjualan makanan meski beberapa kali mengalami kerugian. Akan tetapi, semangatnya untuk menuntut ilmu lebih besar dari tantangan yang ia alami. Meski masih sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk membuktikan bahwa ia mampu menghadapi segala keterbatasan yang ada.
Sebagai seorang mahasiswa, Bagus juga berusaha untuk meningkatkan kompetensi dirinya baik melalui organisasi maupun kegiatan di luar kampus. Dengan dorongan dan dukungan dari para dosen, tak kurang dari 50 kompetisi ia ikuti. Dari puluhan kompetisi itu, puluhan kali pula ia gagal. Namun semangat pantang menyerahnya membuahkan hasil saat ia menyabet beberapa prestasi, di antaranya juara 1, 2, dan harapan dalam bidang business plan. Ia juga menjadi salah satu wakil kampus dalam kompetisi internasional sebagai best business plan ideas di Malaysia dan Singapura.
“Saya sangat bahagia telah menyelesaikan pendidikan strata 1 dan bisa membuat orang tua tersenyum karena saya sebagai putra pertama yang mendapat gelar sarjana. Hal ini merupakan salah satu langkah membangun karier saya serta untuk membahagiakan kedua orang tua,” ujar Bagus.
Berbekal doa dan prinsip hidup yang ia selalu pegang, Bagus akhirnya berhasil melalui segala tantangan selama berkuliah.
“Seperti halnya dalam surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6 yaitu innama'al usri yusro (setiap kesulitan pasti ada jalan kemudahan), maka setiap cobaan pasti ada jalan kebahagiaan. Selain itu fabiayyi alaa irabbikuma tukadzibaan (nikmat Tuhan yang mana, yang kamu dustakan?), yang disebutkan 31 kali dalam surah Ar-Rahman, hal ini menjadi penguat hidup saya menjalani hari-hari yang penuh cobaan dan tantangan hidup,” lanjut Bagus.
Dihadiri oleh kedua orang tua, nenek, kakak, dan adiknya, hari wisuda itu sangat bermakna baginya. Dan bagi kita, kisah Bagus menjadi inspirasi dan motivasi bahwa segala tantangan yang dihadapi selama berkuliah dapat dihadapi dan berakhir indah.
Penulis: Zuhrufi | Editor: Ropingi el-ishaq






