UINSW Newsroom - Momentum Hari Santri dan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bagi sivitas akademika UIN Syekh Wasil Kediri untuk memperkuat ketauhidan, menjaga integritas, serta meneguhkan komitmen kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor I UIN Syekh Wasil Kediri, Taufik Alamin, saat memberikan amanat dalam apel pagi di halaman Gedung Perpustakaan UIN Syekh Wasil Kediri, Senin (19/10/2026).
Dalam amanatnya, Taufik mengajak seluruh peserta apel menjadikan momentum tersebut sebagai ruang refleksi atas hubungan manusia dengan Allah SWT, tanggung jawab dalam pekerjaan, serta peran sebagai bagian dari institusi pendidikan tinggi keagamaan Islam.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan dan pencapaian yang diraih tidak seharusnya menjadikan seseorang merasa jumawa. Sebaliknya, setiap keberhasilan perlu diiringi kesadaran bahwa manusia senantiasa membutuhkan petunjuk dan kekuatan dari Allah SWT agar tetap berada di jalan yang benar.
Mengaitkan refleksi tersebut dengan momentum Hari Santri, Taufik menegaskan bahwa nilai-nilai kesantrian perlu hidup dalam keseharian, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Sebagai bagian dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), sivitas akademika memiliki tanggung jawab untuk turut menghidupkan semangat kesantrian melalui perilaku yang mencerminkan kedisiplinan, kejujuran, kesederhanaan, dan pengabdian.

Refleksi tersebut menjadi penting bagi aparatur sipil negara (ASN) dalam menjalankan tugas pelayanan dan pengabdian. Integritas, menurut pesan yang disampaikan, justru terlihat ketika seseorang tetap bekerja secara bertanggung jawab bukan karena ingin mendapatkan pujian atau pengawasan, melainkan karena menyadari bahwa setiap amanah harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
Selain Hari Santri, Taufik juga mengajak peserta apel memaknai peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober sebagai momentum untuk memperkuat persatuan dan identitas kebangsaan. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, menjadi pengingat bahwa keberagaman bukan penghalang untuk membangun kehidupan bersama.
Ia turut menyoroti perkembangan bahasa Indonesia yang semakin dikenal di tingkat internasional, termasuk penggunaannya dalam forum-forum UNESCO. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi sarana komunikasi lintas bangsa sekaligus memperkenalkan identitas dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat dunia.
Melalui dua momentum tersebut, Taufik mengajak seluruh peserta apel, khususnya ASN di lingkungan UIN Syekh Wasil Kediri, untuk menjadikan nilai ketauhidan, semangat kesantrian, dan komitmen kebangsaan sebagai pedoman dalam bekerja dan berinteraksi. Refleksi tidak berhenti pada peringatan seremonial, tetapi harus hadir dalam bentuk tanggung jawab, keteladanan, dan pengabdian yang konsisten.
Dengan demikian, nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam membentuk pribadi yang rendah hati, berintegritas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi institusi, masyarakat, dan bangsa.
Penulis: Berlyan N | Editor: Ropingi el-Ishaq





