Wisuda UIN Syekh Wasil Kediri
Dosen Lansia Nur Ahid
Seorang Guru yang Belajar Melepaskan
Salah satu pelajaran paling berat bagi seorang guru adalah belajar melepaskan. Ia menerima mahasiswa ketika mereka masih mencari arah, mendampingi pertumbuhannya, mengoreksi kesalahan, menguatkan ketika mereka hampir menyerah, lalu harus merelakan mereka pergi.
Melepaskan bukan berarti berhenti menyayangi.
Setelah wisuda, seorang guru mungkin tidak lagi memeriksa tugas murid-muridnya. Ia tidak lagi mengetahui setiap kesulitan yang mereka alami. Ia mungkin hanya mendengar kabar mereka dari kejauhan. Namun, dalam keheningan, ia tetap berharap agar ilmu yang pernah diberikan menjadi pelita ketika jalan kehidupan terasa gelap.
Wahai anak-anakku, dunia di luar kampus tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada lamaran pekerjaan yang ditolak, cita-cita yang tertunda, usaha yang gagal, dan kepercayaan yang dikhianati. Ada masa ketika kalian merasa tertinggal, sedangkan orang lain tampak berlari jauh di depan.
Jangan menilai seluruh kehidupan hanya dari satu kegagalan. Kalian pernah menyelesaikan tugas yang semula terasa mustahil. Kalian pernah memperbaiki penelitian berkali-kali. Kalian pernah merasa tidak mampu, tetapi akhirnya berdiri mengenakan toga. Pengalaman itu adalah bukti bahwa di dalam diri kalian terdapat kekuatan untuk bangkit.
Berjalanlah, meskipun perlahan. Jangan gadaikan kejujuran hanya untuk mempercepat keberhasilan. Jangan korbankan keluarga demi ambisi yang tidak mengenal batas. Jangan tinggalkan ibadah karena kesibukan. Dan jangan biarkan gelar membuat kalian lupa kepada orang-orang yang dahulu menolong ketika kalian belum menjadi siapa-siapa.
Jika suatu hari kehidupan membawa kalian begitu jauh, ingatlah kampus ini. Ingatlah wajah orang tua pada hari wisuda. Ingatlah guru-guru yang pernah menegur, membimbing, dan mendoakan. Ingatan itu akan menjadi pagar agar kalian tidak kehilangan arah.
Toga Terakhir, tetapi Bukan Pengabdian Terakhir
Apabila toga ini menjadi toga terakhir, saya tidak ingin memaknainya sebagai berakhirnya cinta kepada pendidikan. Toga terakhir hanyalah tanda bahwa pengabdian sedang berubah bentuk.
Ada masa seseorang mengabdi dengan berdiri di depan kelas. Ada masa ia mengabdi melalui tulisan. Ada masa ia berbicara melalui nasihat. Ada pula masa ketika pengabdiannya menjelma doa-doa sunyi yang tidak diketahui oleh siapa pun.
Tiga puluh tahun mungkin telah mengambil banyak tenaga, waktu, dan usia. Namun, usia yang dipersembahkan untuk ilmu bukanlah usia yang hilang. Ia berpindah ke dalam pikiran mahasiswa, tumbuh dalam kehidupan alumni, dan mudah-mudahan mengalir menjadi amal jariah.
Dalam perjalanan panjang itu, tentu terdapat kekurangan. Mungkin pernah ada perkataan yang terasa keras, bimbingan yang belum sempurna, perhatian yang belum cukup, atau harapan mahasiswa yang belum dapat dipenuhi. Dari kedalaman hati, saya memohon maaf kepada seluruh mahasiswa dan alumni.
Apabila ketegasan saya pernah melukai, semoga kalian menemukan niat baik di baliknya. Apabila nasihat dahulu terasa berat, semoga kehidupan kelak menjelaskan maknanya. Apabila terdapat ilmu yang bermanfaat, bagikanlah kembali. Jangan biarkan ia berhenti pada diri kalian.
Guru yang sejati tidak menuntut murid-muridnya selalu berjalan di belakang. Ia berharap mereka mampu melangkah lebih jauh dan mencapai tempat yang tidak pernah dicapainya. Kebanggaan terbesar seorang guru adalah ketika murid-muridnya tumbuh melampaui dirinya, tetapi tetap rendah hati dan setia kepada kebaikan.
Doa yang Tidak Pernah Berakhir
Wahai para wisudawan UIN Syekh Wasil Kediri, pergilah membawa ilmu, tetapi jangan tinggalkan kerendahan hati. Kejarlah cita-cita, tetapi jangan menginjak martabat manusia. Raihlah keberhasilan, tetapi jangan melupakan orang tua. Bangunlah masa depan, tetapi jangan kehilangan jalan pulang kepada Allah.
Jika kelak kalian berhasil, ingatlah bahwa ada doa-doa yang bekerja tanpa terlihat. Ada tangan yang menopang ketika kalian hampir jatuh. Ada orang-orang yang menyebut nama kalian dalam sujud tanpa meminta balasan.
Jika menjadi pemimpin, lindungilah mereka yang lemah. Jika menjadi orang berada, jangan lupakan mereka yang kekurangan. Jika menjadi cendekiawan, jangan merendahkan orang yang tidak berkesempatan sekolah. Jika menjadi tokoh agama, hadirkanlah agama sebagai kasih sayang yang menyembuhkan luka manusia.
Saya mungkin tidak dapat berjalan bersama kalian sepanjang kehidupan. Akan tiba waktunya seorang guru berhenti di satu tempat, sementara murid-muridnya meneruskan perjalanan. Namun, selama hati ini masih mampu berharap, nama-nama kalian akan memiliki tempat di dalam doa.
Ya Allah, jagalah anak-anak kami ketika tangan kami tidak lagi mampu menjangkau mereka. Terangilah jalan mereka ketika kebingungan datang. Kuatkan hati mereka ketika kehidupan terasa berat. Lindungilah mereka dari kesombongan ketika memperoleh keberhasilan dan dari keputusasaan ketika menghadapi kegagalan.
Jadikanlah ilmu mereka cahaya, gelar mereka amanah, pekerjaan mereka ibadah, keberhasilan mereka jalan untuk menolong sesama, dan seluruh kehidupan mereka persembahan bagi agama, bangsa, serta kemanusiaan.
Pada akhirnya, gedung wisuda akan kembali sepi. Kursi-kursi akan dirapikan. Toga akan dilipat. Bunga akan dibawa pulang. Foto-foto akan disimpan menjadi kenangan. Akan tetapi, makna wisuda tidak boleh ikut berakhir.
Wisuda harus tetap hidup ketika seorang alumni menolong masyarakat dengan ilmunya. Ia hidup ketika seorang sarjana menolak kecurangan meskipun memiliki kesempatan. Ia hidup ketika pengetahuan digunakan untuk menyembuhkan, mendamaikan, memberdayakan, dan memuliakan manusia.
Hari ini, toga mungkin menjadi toga terakhir.
Ruang kuliah mungkin perlahan menjauh.
Suara langkah mungkin semakin sunyi.
Namun, doa tidak akan pernah berakhir.
Sebab seorang guru boleh selesai mengajar, tetapi tidak pernah selesai berharap. Ia boleh meninggalkan ruang kuliah, tetapi cintanya akan tetap tinggal di antara buku-buku, lorong-lorong kampus, ruang-ruang kenangan, dan hati para mahasiswa yang pernah disentuhnya.
Selamat melangkah, anak-anakku. Bawalah cahaya UIN Syekh Wasil Kediri ke seluruh penjuru kehidupan. Jadilah manusia yang kehadirannya dirindukan, ucapannya menenteramkan, ilmunya mencerahkan, akhlaknya menguatkan, dan pengabdiannya membuat dunia tetap percaya bahwa kebaikan belum berakhir.
Apabila kelak kita tidak sempat berjumpa kembali, biarlah ilmu mempertemukan kita dalam amal. Biarlah kenangan mempertemukan kita dalam kerinduan. Biarlah doa mempertemukan kita di hadapan Allah—di tempat yang tidak lagi mengenal toga, gelar, jabatan, usia, ataupun perpisahan.
Di sanalah setiap air mata berubah menjadi cahaya.
Di sanalah setiap perjuangan menjadi kebanggaan.
Di sanalah ilmu menjelma pengabdian.
Dan di sanalah seorang guru bersama murid-muridnya dipertemukan kembali oleh doa yang tidak pernah berakhir.





