Being Excellent with Islamic Values

Contact Info

Jl. Sunan Ampel No.7, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64127
info@iainkediri.ac.id
0354 - 689282

Follow Us

[BAGIAN 2/3] TOGA TERAKHIR, DOA YANG TAK PERNAH BERAKHIR

Wisuda UIN Syekh Wasil Kediri

Dosen Lansia Nur Ahid 


Baca bagian sebelumnya (Bagian 1/3)


Di Balik Toga, Ada Pengorbanan yang Tidak Terlihat

Toga yang dikenakan pada hari wisuda terlihat ringan. Namun, di baliknya tersimpan beban perjuangan yang tidak ringan.

Ada malam-malam ketika mahasiswa harus bertahan dengan mata yang lelah. Ada tugas yang dikerjakan di tengah keterbatasan. Ada penelitian yang harus diulang. Ada data yang sulit ditemukan. Ada ujian yang membuat tangan gemetar. Ada revisi yang tampak tidak berkesudahan.

Sebagian mahasiswa harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Sebagian menahan lapar agar uang kiriman cukup hingga akhir bulan. Sebagian tidak berani menceritakan kesulitannya kepada orang tua karena mengetahui keadaan keluarga di rumah juga tidak mudah.

Namun, perjalanan menuju wisuda tidak pernah hanya menjadi perjuangan mahasiswa. Di balik setiap toga, ada orang-orang yang bekerja dalam diam.

Ada ayah yang berangkat sebelum matahari terbit. Ia menghadapi panas, hujan, kelelahan, dan ketidakpastian penghasilan. Mungkin ia tidak pernah memahami istilah akademik yang dipelajari anaknya. Namun, ia memahami bahwa pendidikan adalah jalan yang dapat mengubah masa depan.

Ayah jarang menceritakan kesulitannya. Ketika anak bertanya tentang biaya, ia hanya menjawab, “Belajarlah yang sungguh-sungguh. Biar Ayah yang memikirkan.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada kebutuhan yang ditunda, keinginan yang dikorbankan, dan tubuh yang dipaksa terus bekerja meskipun semakin letih.

Ada pula ibu yang tidak pernah tercatat sebagai bagian dari civitas academica, tetapi doanya hadir di setiap ruang kuliah. Ia mungkin tidak memahami metodologi penelitian, tetapi ia memahami cara mengetuk pintu langit. Pada sepertiga malam, ketika anaknya tidur dalam kelelahan, ibu menengadahkan tangan dan menyebut namanya di hadapan Allah.

Ketika anak hampir menyerah, ibu berkata, “Bertahanlah sedikit lagi.”

Ketika anak merasa tertinggal, ibu berkata, “Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain.”

Ketika anak takut menghadapi ujian, ibu berkata, “Berusaha dan berdoalah. Apa pun hasilnya, engkau tetap anak kami.” 

Pada hari wisuda, air mata ibu akhirnya jatuh. Air mata itu bukan tanda kelemahan. Ia merupakan pertemuan antara rasa syukur, kelegaan, kelelahan, dan kenangan. Dalam sekejap, ibu mengenang anak yang dahulu digendongnya, dituntun berjalan, diantar ke sekolah, lalu kini berdiri sebagai sarjana.

Pada saat nama seorang wisudawan dipanggil, sesungguhnya nama orang tuanya ikut menggema meskipun tidak disebutkan. Ketika ijazah diserahkan kepada anak, sesungguhnya penghargaan itu juga diberikan kepada ayah dan ibu yang telah mengorbankan sebagian hidupnya.

Wahai para wisudawan, setelah acara selesai, jangan hanya sibuk berfoto dengan teman-teman. Carilah ayah dan ibu kalian. Peluklah mereka. Ciumlah tangannya. Tataplah wajah yang semakin menua itu. Katakan, “Gelar ini bukan hanya milikku. Ia adalah buah dari doa, keringat, dan cinta Ayah dan Ibu.”

Apabila salah seorang atau keduanya telah lebih dahulu kembali kepada Allah, bawalah kebahagiaan itu ke pusaranya. Sampaikan dalam doa, “Ayah, Ibu, aku telah sampai di hari yang dahulu kita impikan. Engkau memang tidak duduk di antara para undangan, tetapi cintamu hidup dalam setiap langkahku.”

Mungkin tidak ada jawaban yang terdengar. Akan tetapi, cinta yang tulus tidak pernah membutuhkan suara untuk sampai kepada jiwa.

 

UIN Syekh Wasil Kediri sebagai Rumah Kenangan

UIN Syekh Wasil Kediri bukan hanya kumpulan gedung, ruang kuliah, kantor, perpustakaan, laboratorium, dan halaman kampus. Ia adalah rumah intelektual dan spiritual; tempat ilmu, iman, budaya, dan kemanusiaan dipertemukan.

Di sinilah mahasiswa belajar membaca buku sekaligus membaca kehidupan. Mereka diajak memahami teks, tetapi juga harus peka terhadap konteks. Mereka mempelajari agama, tetapi juga dituntut menghadirkan keberagamaan yang menenteramkan. Mereka mengenal perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi tetap diingatkan bahwa kecanggihan tanpa akhlak dapat kehilangan arah.

Universitas Islam memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada menghasilkan lulusan. Ia harus melahirkan manusia yang mampu mempertemukan ketajaman akal dengan kejernihan hati; menghubungkan kedalaman spiritual dengan keterbukaan intelektual; serta menyatukan profesionalisme dengan tanggung jawab sosial.

Ilmu tanpa moral dapat berubah menjadi alat penindasan. Teknologi tanpa kemanusiaan dapat mendekatkan jarak, tetapi menjauhkan hati. Agama tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan kelembutannya. Sebaliknya, niat baik tanpa ilmu dapat tersesat dalam tindakan yang tidak tepat.

Karena itu, pendidikan di UIN Syekh Wasil Kediri harus terus merawat keseimbangan antara iman, ilmu, amal, dan akhlak. Lulusannya harus mampu berdiri di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan akar moral dan spiritualnya.

Kelak, para alumni mungkin merindukan suasana kampus ini. Mereka akan mengingat ruang kuliah, suara dosen, masjid kampus, perpustakaan, kantin, lorong-lorong, diskusi, persahabatan, dan tugas-tugas yang dahulu sering dikeluhkan. 

Pada suatu hari, mereka akan menyadari bahwa yang paling dirindukan dari masa kuliah bukan hanya kebahagiaan, melainkan juga kesulitan yang pernah dihadapi bersama. Perjuangan yang dahulu terasa melelahkan justru berubah menjadi kenangan yang paling mengharukan.

Waktu tidak pernah mengembalikan masa yang telah berlalu. Ia hanya meninggalkan kenangan agar manusia memahami betapa berharganya perjumpaan. Karena itu, jangan biarkan UIN Syekh Wasil Kediri hanya menjadi nama dalam riwayat pendidikan. Bawalah kampus ini ke mana pun kalian pergi melalui kejujuran, kesantunan, kecerdasan, dan keberanian membela kebenaran.

 

Ketika Ilmu Harus Menjelma Pengabdian

Secara filosofis, wisuda bukanlah garis akhir. Ia merupakan jembatan antara proses menerima ilmu dan kewajiban mengamalkannya. Sebelum wisuda, mahasiswa lebih banyak bertanya, “Apa yang harus saya pelajari?” Setelah wisuda, pertanyaannya berubah menjadi, “Untuk siapa ilmu ini akan saya gunakan?”

Ijazah bukan bukti bahwa seseorang telah selesai belajar. Ia adalah pernyataan bahwa seseorang telah dipersiapkan untuk terus belajar sepanjang kehidupan. Dunia berubah sangat cepat. Pengetahuan terus berkembang, teknologi menghadirkan kemungkinan baru, dan masyarakat menghadapi persoalan yang semakin kompleks.

Dunia mungkin semakin dipenuhi mesin cerdas, tetapi tetap membutuhkan manusia berhati jernih. Kecerdasan buatan dapat mengolah data, tetapi tidak menggantikan nurani yang memilih keadilan. Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi hanya kasih sayang yang dapat membuat kemajuan memiliki makna. 

Bangsa tidak sekadar membutuhkan banyak sarjana. Bangsa membutuhkan manusia terdidik yang berani menghadapi persoalan nyata. Masyarakat tidak hanya menunggu kepandaian kalian. Mereka menunggu manfaat kalian.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Pekerjaan apa yang akan saya peroleh setelah lulus?” Tanyakan pula, “Persoalan apa yang dapat saya bantu selesaikan dengan ilmu yang saya miliki?”

Jangan hanya bercita-cita memperoleh kedudukan tinggi. Persiapkanlah diri agar pantas memikul amanah besar. Jangan hanya bermimpi menjadi orang terkenal. Berusahalah menjadi manusia yang kehadirannya membawa kebaikan.

Jadilah guru yang tidak hanya menyelesaikan kurikulum, tetapi juga menjaga harapan anak-anak. Jadilah pemimpin yang tidak sekadar pandai berpidato, tetapi berani mendengar mereka yang tidak memiliki suara. Jadilah aparatur yang memandang pelayanan sebagai kehormatan. Jadilah pengusaha yang memperoleh keuntungan tanpa kehilangan kemanusiaan. Jadilah peneliti yang setia kepada data dan kebenaran. Jadilah tokoh agama yang menghadirkan keteduhan, bukan ketakutan.

Gelar akademik bukan mahkota untuk meninggikan diri. Ia adalah amanah yang menuntut kerendahan hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut ucapannya, semakin luas kepeduliannya, dan semakin besar kesediaannya untuk melayani. 

Jika ilmu hanya digunakan untuk memperkaya diri, ia kehilangan sebagian kemuliaannya. Jika pengetahuan membuat seseorang merendahkan orang lain, berarti pendidikan belum selesai menyentuh hatinya. Ilmu mencapai martabat tertingginya ketika ia menjelma pengabdian.


Bersambung ke Bagian 3/3

 

Berita Lainnya