Being Excellent with Islamic Values

Contact Info

Jl. Sunan Ampel No.7, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64127
info@iainkediri.ac.id
0354 - 689282

Follow Us

Bahas Transformasi Peran Masjid pada IGIC 2026, Rektor UIN Syekh Wasil Kediri: Masjid adalah ‘Ruang Bersama’ yang Inklusif

UINSW Newsroom – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri, Wahidul Anam, menyebut bahwa masjid memiliki peran penting sebagai ‘ruang bersama’ yang inklusif serta motor penggerak perdamaian. Hal ini disampaikan Wahidul Anam pada Seminar Nasional International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang diselenggarakan di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (2/8/2026).

Dalam paparannya, Wahidul Anam menyampaikan bahwa masjid memiliki peran khusus dalam strategi penguatan moderasi beragama dan diplomasi perdamaian. Piagam Madinah pada tahun 622 M, menjadi bukti bahwa Islam telah lama mengenalkan konsep toleransi beragama.  Melalui konstitusi plural pertama yang disusun Nabi Muhammad SAW di Yatsrib, Islam berhasil menyatukan kaum Muhajirin, Anshar, dan komunitas Yahudi untuk membangun tatanan sosial yang berlandaskan keadilan, kesetaraan, keamanan, dan kerja sama kolektif.


Konsep toleransi beragama inilah yang menurut Wahidul Anam perlu diteladani, terutama berkaitan dengan peran masjid sebagai ruang inklusif. Menelaah riwayat Al-Sîrah al-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, Wahidul Anam mengajak untuk meneladani sikap Rasulullah SAW saat menerima kunjungan delegasi Kristen Najran (sekitar 60 orang) di Madinah dan mengizinkannya untuk melaksanakan kebaktian di dalam kompleks Masjid Nabawi. Hal ini menjadi wujud bahwa masjid sejak awal sejarah Islam tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah mahdlah, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan kemanusiaan yang inklusif, toleran, dan menghormati keyakinan lain.

Di era saat ini, Wahidul Anam kemudian memberikan gambaran Masjid Istiqlal yang berhasil menjadi motor penggerak perdamaian. Beragam peristiwa monumental yang terjadi sejak tahun 1978 melalui hubungan harmonis lintas agama, dibangunnya terowongan silaturahmi, Deklarasi Istiqlal 2024, hingga Asia Pacific Chaplaincy Symposium menjadi wujud bahwa masjid berhasil menjadi ‘ruang bersama’ lintas agama.

“Masjid tidak lagi dipahami sebatas ruang ibadah ritual, melainkan bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif untuk membangun dialog, kolaborasi, dan harmoni sosial di tengah masyarakat majemuk,” sebut Wahidul Anam.

“Di sinilah pentingnya peran masjid sebagai basis penyebaran nilai-nilai toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, sikap anti-kekerasan, serta penguatan komitmen kebangsaan bagi seluruh elemen masyarakat,” lanjut Guru Besar UIN Syekh Wasil Kediri ini.

Dengan penguatan peran masjid yang inklusif ini, Wahidul Anam berharap masjid modern dapat bertransformasi dengan berperan aktif memfasilitasi dialog lintas agama, resolusi konflik secara damai, pengembangan kerja sama kemanusiaan, serta memperkuat kohesi sosial global.

Penulis: Zuhrufi  |  Editor: Ropingi el-Ishaq

Berita Lainnya