Being Excellent with Islamic Values

Contact Info

Jl. Sunan Ampel No.7, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64127
info@iainkediri.ac.id
0354 - 689282

Follow Us

Di MUTUN 2026 Tebuireng, Rektor UIN Syekh Wasil Kediri Tekankan Pentingnya Otentisitas Hadis

UINSW Newsroom – Rektor UIN Syekh Wasil Kediri, Wahidul Anam, menekankan pentingnya pembahasan otentisitas hadis dalam pengembangan ilmu hadis. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam bedah kitab Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid pada rangkaian Muktamar Turats Nabawi (MUTUN) 2026 di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Pesantren Tebuireng, Jombang, Selasa (6/10/2026).

Dalam forum tersebut, Wahidul Anam mengapresiasi pembahasan yang terdapat dalam kitab karya Wakil Mudir Bidang Akademik Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Anang Firdaus. Ia secara khusus menyoroti pentingnya memperkuat pembahasan mengenai cara berinteraksi dengan hadis dha’if, sebagaimana salah satu masukan dari ulama hadis Dr. Muhyiddin ‘Awwamah.

“Salah satu aspek penting dalam kajian ilmu hadis adalah pembahasan mengenai otentisitas hadis,” ungkap Wahidul Anam.

Wahidul Anam kemudian menceritakan kisah yang disampaikan Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawwar ketika bertanya kepada gurunya, Syaikh Yasin al-Fadani, mengenai status dua hadis.

Dalam kisah tersebut, Syaikh Yasin al-Fadani disebut melakukan verifikasi melalui mimpi untuk memastikan kebenaran hadis yang dipertanyakan. Setelah dilakukan pengecekan, hadis yang sebelumnya dinilai bermasalah berdasarkan kajian sanad tersebut disebut ternyata merupakan hadis Nabi.

Wahidul Anam mengaitkan kisah tersebut dengan pandangan Imam al-Ghazali mengenai mimpi yang dalam konteks tertentu dapat menjadi salah satu sarana memperoleh inspirasi dan pengetahuan.

Sementara itu, pada pembahasannya Anang Firdaus menjelaskan, kitab *Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid* pada awalnya tidak dirancang untuk diterbitkan secara luas. Naskah tersebut mula-mula disusun sebagai bahan pembelajaran internal bagi para mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.

Namun, setelah melalui diskusi dengan sejumlah ulama dan akademisi, naskah tersebut dinilai layak untuk dikaji melalui forum yang lebih luas.

Sebelum digunakan sebagai bahan ajar dan diterbitkan, kitab tersebut juga telah melalui proses telaah dari sejumlah ahli. Salah satunya Sayyid Abdul Majid al-Ghury yang memberikan masukan terkait penyajian kitab, mulai dari gaya bahasa hingga sistematika penulisan.

Masukan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan meringkas pembahasan yang sebelumnya cukup panjang agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembelajaran para mahasantri. Abdul Majid al-Ghury juga menyarankan agar kitab dilengkapi skema dan bagan sehingga pembaca lebih mudah memahami alur pembahasan secara sistematis.

Kegiatan bedah kitab ini menjadi wujud MUTUN 2026 yang tidak hanya membahas aspek transmisi hadis, tetapi juga mendorong pengembangan metodologi kajian hadis agar mampu merespons persoalan-persoalan kontemporer. Harapannya, forum tersebut sekaligus memperkuat semangat Ma’had Aly Hasyim Asy’ari untuk mengembangkan tradisi kajian hadis pesantren, dari sekadar menjaga warisan keilmuan menjadi ruang untuk melahirkan gagasan dan pemikiran yang relevan dengan perkembangan zaman.

Berita Lainnya