Oleh Muhammad Syafrizal Rosidi
Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam
Keluarga memiliki sejarah yang sangat penting dalam membentuk moral dan karakter seseorang, meskipun keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat. Hubungan suami-istri dalam Islam diatur oleh syariat, selain cinta dan kasih sayang. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW menjadi dasar untuk memahami hak dan kewajiban pasangan. Sayangnya, banyak pasangan masih belum memahami secara menyeluruh hak-hak ini, yang menyebabkan ketidakseimbangan dan konflik dalam rumah tangga sering terjadi.
Sebagai mahasiswa yang mempelajari hukum keluarga, saya menyadari betapa pentingnya memahami hak-hak sebagai pedoman praktis yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam artikel ini, kami melihat hak-hak suami dan istri menurut hadis dan bagaimana hal tersebut dapat diterapkan dalam rumah tangga kontemporer.
Hak Suami dalam Hukum Islam
Seorang suami memikul banyak tugas keluarga. Suami adalah pemimpin keluarga dan bertanggung jawab atas kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Dalam hal ini, hak suami tidak hanya untuk memerintah atau menuntut, tetapi juga memiliki kewajiban untuk menjaga, mendidik, dan menafkahi keluarga.
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa pemimpin yang mampu menjaga keluarganya dengan baik adalah yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa seorang suami memiliki hak untuk memimpin rumah tangga, tetapi itu harus dilakukan dengan keadilan, kasih sayang, dan komunikasi yang baik dengan istri mereka. Kepemimpinan yang baik bukan berarti menekan, akan tetapi menciptakan lingkungan yang damai.
Selain itu, suami memiliki hak untuk dihormati dan dibantu istri, terutama dalam hal pengambilan keputusan keluarga, tetapi hak ini harus diimbangi dengan kewajiban suami untuk memperhatikan kebutuhan istri dan anggota keluarga lainnya. Dengan kata lain, suami bertanggung jawab moral dan spiritual untuk memimpin keluarga.
Hak Istri dalam Hukum Islam
Hak yang sama juga dimiliki oleh pasangan. Menurut hadis Nabi, seorang istri berhak mendapatkan perlakuan adil, perhatian, dan kasih sayang dari suaminya. Nafkah adalah salah satu hak paling mendasar, yang mencakup kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Ini menunjukkan bahwa kewajiban suami bukan hanya simbolik, tetapi juga nyata dan nyata.
Istri berhak atas penghormatan, keamanan, dan kasih sayang dari suami selain nafkah. Hadis menekankan bahwa akhlak dan kualitas iman seorang pria ditunjukkan oleh perilaku suami terhadap istri. Suami yang baik memperlakukan istri dengan hormat, mendengarkan pendapatnya, dan melibatkan istri dalam pengambilan keputusan keluarga.
Selain itu, istri berhak mendapatkan jumlah waktu dan perhatian yang adil, terutama ketika perhatian dibagi antara urusan rumah tangga dan keluarga. Hak-hak ini tidak dimaksudkan untuk mengekang suami, namun sebaliknya, mereka dimaksudkan untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan dalam rumah tangga.
Penerapan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Ketidakseimbangan pendapat tentang hak dan kewajiban adalah penyebab umum konflik rumah tangga. Misalnya, suami menuntut ketaatan tetapi tidak memberikan nafkah atau perhatian yang cukup, atau istri merasa diabaikan karena suaminya tidak menghargai pendapatnya. Hadis menawarkan solusi praktis: komunikasi, musyawarah, dan saling menghargai menjadi kuncinya.
Pemahaman yang baik tentang hak-hak suami dan istri menurut hadis berarti menjaga keseimbangan moral, emosional, dan spiritual. Sebuah keluarga yang harmonis akan terbentuk oleh seorang suami yang sabar, penuh kasih sayang, dan menghormati hak istri, serta seorang istri yang mendukung dan menghormati suaminya.Hadist yang memuat persoalan ini adalah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺخَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
(رواه الترمذي رقم ٣٨٩٥، وابن ماجه رقم ١٩٧٧)
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya), dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”
(HR. Tirmidzi No. 3895; Ibnu Majah No. 1977)
Dalam Hadist ini Menekankan ukuran kebaikan tidak di nilai dari ibadahnya saja jika sudah berkeluarga akan tetapi dalam memperlakukan pasangannya,seperti halnya pentingnya menghargai satu sama lain dalam rumah tangga, pentingnya menjalin komunikasi yang lebih agar rumah tangga menjadi kuat dan kokoh layaknya bagunan dengan pondasi seperti baja, dan larangan bersikap keras apalagi sampai ada main tangan, karena dapat merobohkan rumah tangga. Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari, seorang suami dapat menanyakan pendapat istri sebelum membuat keputusan penting tentang keluarga. Istri juga dapat memberi tahu suami apa yang mereka butuhkan dan harapkan.
Berpedoman pada Hukum Islam menjadi suatu hal yang penting dalam membangun rumah tangga muslim dalam hak hak suami - istri dari sudut pandang Islam. Istri memiliki hak atas perlakuan yang adil, mendapatkan kasih sayang dan penghormatan, sedangkan suami memiliki hak untuk memimpin dan menafkahi keluarganya, karena itu menjadi tanggung jawab sang suami.Tapi dalam berumah tangga seringkali terjadinya ketimpangan dalam pemahaman tentang hak - hak ini sehingga menimbulkan adanya konflik keluarga. Namun, jika hadis di atas diterapkan dengan bijak, maka rumah tangga keluarga akan terasa damai, adil, aman dan sejahtera.



